KAMPUNG JAWA, GUNUNG GEULIS – 19 Agustus 2026 – Saat mentari tenggelam di balik pepohonan dan suhu udara Kampung Jawa mulai menusuk tulang, sebuah kehangatan lain justru mulai menyala di lapangan utama perkemahan. Ratusan peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) SMK Poncol 2026 berkumpul membentuk lingkaran besar, menatap lekat pada tumpukan kayu yang perlahan berubah menjadi kobaran api yang menjulang.
Malam itu, di bawah hamparan langit berbintang desa Gunung Geulis, digelarlah puncak kegembiraan sekaligus perenungan: Malam Api Unggun. Sebuah tradisi yang bukan sekadar acara seremonial, melainkan momen magis yang meleburkan segala sekat, rasa canggung, dan kelelahan fisik menjadi satu ikatan persaudaraan yang kokoh.
Filosofi Api: Berbeda Kayu, Sama Hangatnya
Di tengah kemeriahan api unggu, Ketua Panitia LDKS, Bapak Ridwan., menyampaikan pesan singkat yang sarat makna. Ia mengajak para peserta untuk merenungkan filosofi di balik api unggun itu sendiri.
“Lihatlah api ini. Kayu-kayu yang dibakar mungkin berbeda jenis, berbeda ukuran, dan berasal dari pohon yang berbeda. Namun, ketika mereka dikumpulkan dan dibakar bersama, mereka menghasilkan cahaya yang sama terangnya dan kehangatan yang sama nyamannya. Begitulah kalian, siswa-siswi SMK Poncol. Kalian datang dari latar belakang, jurusan, dan karakter yang berbeda. Tapi di dalam lingkaran api ini, kalian adalah satu keluarga besar yang harus saling menghangatkan dan menerangi,” ujar Bapak Ridwan, yang disambut tepuk tangan meriah.

Renungan Malam: Menyentuh Hati, Membuka Mata
Seiring berjalannya waktu, kobaran api mulai mereduh menjadi bara yang memancarkan cahaya hangat. Musik dan tawa perlahan digantikan oleh keheningan. Dimulailah sesi renungan malam, momen yang paling dinanti sekaligus paling menggetarkan hati.
Dipandu oleh suara pembina yang lembut dan diiringi instrumen musik yang syahdu, para peserta diajak untuk memejamkan mata, menenangkan napas, dan kembali pada tujuan awal mereka mengikuti LDKS. Banyak peserta yang terlihat menunduk, beberapa menyeka air mata yang tanpa sadar mengalir, mengingat pengorbanan orang tua dan janji yang mereka ucapkan pada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam keheningan malam Gunung Geulis itu, para peserta menyadari bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang seberapa keras mereka bisa berteriak, tetapi seberapa dalam mereka bisa merasakan, berempati, dan bertanggung jawab.
Keakraban yang Langka di Luar Dinding Kelas
Salah satu hal paling istimewa dari malam api unggun ini adalah momen langka di mana sekat antara guru dan siswa seolah melebur sepenuhnya. Para pembina, yang biasanya tampil tegas dan berwibawa di ruang kelas atau saat memberikan komando di lapangan, malam itu terlihat begitu berbeda. Mereka duduk melingkar bersama para siswa, ikut tertawa mendengar candaan, bahkan tak segan bergabung dalam nyanyian bersama dengan suara yang kadang sumbang namun penuh penghayatan.

Ibu Mariam, salah satu guru pendamping, mengaku momen seperti ini sangat jarang ia dapatkan di lingkungan sekolah. “Di kelas, kami sering kali hanya berinteraksi sebatas materi pelajaran. Tapi malam ini, saya bisa melihat sisi lain dari anak-anak kami. Ada yang ternyata jago bermain gitar, ada yang pandai melawak, bahkan ada yang ternyata pendiam di kelas ternyata sangat hangat saat diajak mengobrol di dekat api. Ini adalah kekayaan yang tidak bisa diukur dengan nilai rapor manapun. Malam ini mengingatkan kami, para guru, bahwa mendidik bukan hanya soal mengisi otak, tapi juga menyentuh hati,” ungkapnya dengan senyum tulus sambil menikmati kacang hijau yang dihidangkan panitia.
Jejak Cahaya yang Tak Akan Padam
Ketika api unggun akhirnya benar-benar mereduh menjadi bara, dan para peserta satu per satu kembali ke tenda dengan langkah pelan, tersisalah aroma kayu terbakar yang bercampur dengan udara dingin pegunungan. Aroma itu seolah menjadi penanda bahwa sebuah babak baru telah dimulai dalam perjalanan mereka sebagai pelajar dan calon pemimpin. Malam itu, di bawah langit Gunung Geulis yang bertabur bintang, mereka tidak hanya saling mengenal lebih dalam, tetapi juga saling berjanji dalam hati untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Barangkali, bertahun-tahun setelah mereka lulus dan tersebar di berbagai penjuru negeri, kenangan tentang malam api unggun di Kampung Jawa ini akan tetap hidup. Mereka akan mengingat bagaimana tangan-tangan teman menghangatkan mereka di tengah dinginnya malam, bagaimana suara pembina yang lembut menuntun mereka pada kesadaran diri, dan bagaimana kobaran api mengajarkan bahwa kebersamaan adalah sumber kekuatan terbesar. Api unggun di Gunung Geulis mungkin telah padam, tetapi cahayanya akan terus menerangi langkah mereka, menjadi kompas moral yang mengingatkan bahwa di mana pun mereka berada, mereka adalah bagian dari keluarga besar SMK Poncol yang selalu saling menghangatkan.
Bekal Menuju Hari Esok
Malam api unggun ditutup dengan doa bersama dan arahan dari kepala sekolah tentang kepemimpinan yang akan terus menyala.
Meskipun acara telah usai dan para peserta kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat, kehangatan malam itu seolah masih tertinggal di dada mereka. Esoknya, mereka akan menghadapi hari terakhir LDKS dengan hati yang lebih lapang, pikiran yang lebih jernih, dan semangat yang semakin membara.
Api unggun di Gunung Geulis mungkin akan padam, tetapi api semangat kepemimpinan dan persaudaraan di dalam diri siswa-siswi SMK Poncol 2026, baru saja benar-benar dinyalakan. ( DV )
