KAMPUNG JAWA, GUNUNG GEULIS – 20 Agustus 2026 – Hari ketiga dan terakhir rangkaian Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) SMK Poncol 2026 di kawasan perkemahan Kampung Jawa, desa Gunung Geulis, dimulai dengan dentuman semangat yang berbeda. Kamis (20/8) pagi, ratusan peserta dibangunkan bukan oleh alarm, melainkan oleh instruksi tegas dan dinamis dalam sesi senam pagi ala militer. Selepas menguras keringat dan meregangkan otot yang mulai pegal, aroma gurih nasi uduk khas Sunda yang disajikan panitia menjadi “penyembuh lelah” paling dinanti. Sarapan bersama ini tidak hanya mengisi perut, tetapi juga menghangatkan hati para calon pemimpin muda sebelum menghadapi rangkaian pamungkas yang menantang.
Pagi itu segera berubah menjadi “kelas alam” yang menegangkan sekaligus sangat mendidik. Anggota TNI yang bertindak sebagai narasumber membawakan materi survival (bertahan hidup) yang sangat praktis dan krusial: mengidentifikasi makanan yang aman dikonsumsi di hutan saat tersesat atau dalam kondisi darurat. Para siswa diperkenalkan pada berbagai jenis daun-daunan yang bisa dimakan, jantung dan bonggol pohon pisang, hingga sumber protein tak terduga seperti jangkrik.

Puncak kejutan dan decak kagum terjadi ketika instruktur membawa seekor ular hidup sebagai media demonstrasi langsung. Dengan tenang, sang instruktur mengajarkan cara mengenali ciri-ciri ular berbisa, teknik menghindari serangan, serta langkah dasar penanganan darurat. Meski awalnya terdengar jeritan ngeri dari beberapa peserta, rasa penasaran dan semangat belajar akhirnya berhasil mengalahkan rasa takut.
“Materi ini benar-benar membuka mata kami. Ternyata alam menyediakan segala yang kita butuhkan untuk bertahan, asalkan kita punya pengetahuan, tetap tenang, dan tidak panik,” ujar Alika, siswa kelas X, dengan mata yang masih berbinar pasca-demonstrasi.

Setelah adrenalin memuncak, suasana beralih ke ujian kepercayaan dan komunikasi melalui game baris-berbaris dengan mata tertutup. Dipandu secara apik dan penuh kesabaran oleh Pak Jujun bersama jajaran pengurus OSIS, permainan ini memaksa setiap peserta untuk melepaskan kendali visual dan sepenuhnya mengandalkan instruksi suara dari rekan satu regu. Di tengah keheningan yang diciptakan, hanya terdengar bisikan dan komando pelan yang menuntun langkah kaki.
Game ini bukan sekadar hiburan, melainkan simulasi nyata tentang betapa pentingnya kepercayaan (trust) dan komunikasi yang jelas dalam sebuah kepemimpinan. Banyak peserta yang mengaku tersentuh, menyadari bahwa menjadi pemimpin atau dipimpin membutuhkan rasa saling percaya yang tak tergoyahkan dan kepekaan yang tinggi terhadap rekan satu tim.

Puncak dari seluruh rangkaian kegiatan ini adalah Upacara Penutupan LDKS SMK Poncol 2026. Dengan seragam Pramuka yang dikenakan dengan dada yang membusung penuh kebanggaan, para peserta berdiri tegak di bawah terik matahari siang. Momen pelepasan tanda peserta dan ucapan selamat oleh Kepala Sekolah dan para pembina menjadi titik haru yang menandai keberhasilan mereka menaklukkan tiga hari penuh tantangan di desa Gunung Geulis. Air mata kebahagiaan dan pelukan erat antar-rekan satu regu tak terhindarkan, menjadi saksi bisu ikatan persaudaraan yang telah terbentuk.

Selepas upacara, kehangatan semakin terasa melalui makan siang bersama. Tawa, canda, dan janji untuk tetap menjaga silaturahmi mengisi setiap sudut area perkemahan. Nasi dan lauk yang disantap hari ini terasa jauh lebih istimewa, karena dinikmati bersama orang-orang yang telah berjuang bersama melewati suka dan duka. *DV)
